![]() |
| Sutikno resmi dikukuhkan sebagai Ketua FPPA Pacitan periode 2026–2028 di Yogyakarta. Soliditas organisasi dan profesionalisme pers menjadi sorotan. |
YOGYAKARTA | TIMES NEWS – Sutikno resmi dikukuhkan sebagai Ketua Forum Pewarta Pacitan (FPPA) masa bakti 2026–2028 dalam acara yang digelar di salah satu hotel ternama di Yogyakarta, Rabu (21/10/2026) malam. Pengukuhan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan momentum untuk menyatukan kembali barisan pewarta sekaligus memperkuat profesionalisme pers di Kabupaten Pacitan.
Di hadapan jajaran pengurus, Sutikno menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang menduduki kursi ketua, melainkan oleh seberapa besar keterlibatan seluruh anggota dalam menjalankan roda organisasi. Tanpa partisipasi aktif, kepengurusan hanya akan menjadi struktur formal tanpa gerak dan kontribusi nyata.
Sutikno juga menyampaikan apresiasi kepada panitia pemilihan yang telah menjalankan seluruh tahapan demokrasi organisasi dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, proses pemilihan yang demokratis merupakan fondasi penting untuk membangun organisasi yang sehat, dewasa, dan profesional.
“Kepada panitia pemilihan, terima kasih. Anda yang terbaik telah melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab,” ujar Sutikno.
Kepada pengurus yang baru dikukuhkan, ia meminta agar tidak berhenti belajar, terus meningkatkan kapasitas diri, dan berani menghadapi berbagai persoalan organisasi. Tantangan ke depan membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar nama dalam susunan kepengurusan.
“Teman-teman pengurus harus aktif untuk membesarkan FPPA,” pesannya.
Lebih jauh, Sutikno mengajak seluruh pihak yang sebelumnya berkontestasi dalam pemilihan untuk kembali merapatkan barisan. Perbedaan pilihan, menurut semangat pesannya, harus ditempatkan sebagai bagian dari dinamika demokrasi, bukan menjadi alasan untuk membangun sekat di antara sesama pewarta.
Baginya, kontestasi telah usai dan tanggung jawab bersama justru baru dimulai. Seluruh elemen FPPA diharapkan mengesampingkan perbedaan, memperkuat komunikasi, serta mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Pesan persatuan tersebut menjadi penting agar FPPA tidak terjebak dalam dinamika internal, tetapi mampu menunjukkan eksistensi melalui program kerja, peningkatan kompetensi wartawan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Soliditas organisasi harus dibuktikan melalui tindakan, bukan berhenti pada seruan dalam acara pengukuhan.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pacitan, Dodik Sumarsono, yang hadir mewakili Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro, menyampaikan ucapan selamat kepada Sutikno beserta jajaran pengurus FPPA periode 2026–2028.
Dodik menegaskan bahwa pers memiliki posisi strategis dalam kehidupan demokrasi. Selain menyampaikan informasi kepada publik, media juga menjalankan fungsi kontrol sosial yang diperlukan untuk mengawal jalannya pemerintahan dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar.
Ia berharap FPPA mampu menghadirkan produk jurnalistik yang aktual, akurat, dan berlandaskan data. Kecepatan pemberitaan, menurut pesan yang disampaikannya, harus tetap berjalan beriringan dengan ketelitian dalam memeriksa fakta serta tanggung jawab terhadap informasi yang disebarluaskan.
“FPPA mampu menyampaikan informasi yang aktual. Sampaikan dengan data dan hati,” jelasnya.
Dodik juga mendorong insan pers untuk ikut memperkenalkan potensi Kabupaten Pacitan melalui pemberitaan yang konstruktif dan berbasis fakta. Potensi pariwisata, capaian pembangunan, serta peluang ekonomi daerah dinilai perlu mendapat ruang pemberitaan agar semakin dikenal masyarakat luas.
Namun, membangun narasi positif tentang daerah bukan berarti menutup mata terhadap persoalan. Pers tetap dituntut menjaga independensi, menyampaikan kritik secara proporsional, dan menjalankan fungsi pengawasan secara profesional. Informasi yang berimbang justru menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap media maupun pemerintah.
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan pers juga semakin berat. Penyebaran hoaks, informasi yang belum terverifikasi, dan tuntutan kecepatan publikasi dapat menggerus kepercayaan masyarakat apabila tidak diimbangi disiplin jurnalistik. Karena itu, verifikasi, akurasi, keberimbangan, dan kepatuhan terhadap kode etik harus tetap menjadi pegangan utama setiap wartawan.
Pengukuhan pengurus FPPA masa bakti 2026–2028 pun membawa harapan sekaligus tanggung jawab. Kepengurusan baru dituntut membuktikan bahwa organisasi bukan hanya wadah berkumpulnya pewarta, melainkan ruang untuk meningkatkan kualitas profesi, memperkuat solidaritas, dan memperjuangkan praktik jurnalistik yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, keberhasilan Sutikno memimpin FPPA tidak semata-mata diukur dari kelancaran kegiatan organisasi, tetapi juga dari kemampuannya merawat persatuan, menggerakkan seluruh anggota, dan menjaga marwah profesi. Bagi pers Pacitan, tantangan sesungguhnya bukan hanya membangun organisasi yang solid, melainkan memastikan pers tetap kritis, independen, dan dipercaya masyarakat. (Dn)



