-->
  • Jelajahi

    Copyright © Timesnews.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    The Tamperan Cruiser Resmi Diluncurkan, Kapal Wisata Baru Pacitan Siap Jelajah Laut

    timesnews.id
    Rabu, 19 Agustus 2026, Agustus 19, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T07:18:58Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Foto Dokumentasi Muhammad Rofiqin sedang memberi air suci ritual untuk memohon keselamatan diawal kapal The Tamperan Cruiser resmi menjalani first touch of the sea, Kamis (20/8/2026).

    PACITAN | TIMES NEWS — Sebuah karya anak-anak desa Pacitan akhirnya menyentuh laut. Setelah dikerjakan selama 52 hari tanpa mengenal siang dan malam, sejak 30 Juni hingga 20 Agustus 2026, The Tamperan Cruiser resmi menjalani first touch of the sea, Kamis (20/8/2026).


    Kapal wisata tersebut lahir dari sebuah gagasan sederhana, tetapi memiliki target besar: bagaimana membuat wisatawan yang datang ke Pacitan tidak sekadar singgah, melainkan mau tinggal lebih lama dan menikmati lebih banyak pengalaman wisata.


    Kapal yang dibangun di workshop Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, itu dikerjakan oleh Bambang Purnomo bersama para pemuda dari Sidomulyo, Kalipelus, dan Klesem. Pengembangannya dilakukan PT Janenake Kahfi Andalan di bawah pimpinan Muhammad Rofiqin atau yang akrab disapa Pak Mamat.


    Bagi Mamat, The Tamperan Cruiser bukan sekadar proyek pembuatan kapal. Kapal tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjangnya membangun usaha sekaligus upaya mengembangkan potensi wisata bahari Pacitan.


    Perjalanan bisnis Mamat pun tidak selalu mulus. Dari dunia usaha periklanan, ia kemudian mencoba peruntungan di sektor perikanan. Hingga akhirnya, perhatian tersebut berkembang pada sektor pariwisata bahari dengan mengangkat Guest House Tamperan sebagai salah satu pintu masuk untuk memasarkan pengalaman wisata di Pacitan.


    Menurut Mamat, gagasan menghadirkan kapal wisata muncul dari kenyataan di lapangan. Setiap hari, banyak wisatawan dari luar daerah datang ke Pacitan. Namun, sebagian besar belum menjadikan Pacitan sebagai tempat untuk tinggal dan menikmati wisata dalam waktu yang panjang.


    “Persoalannya bukan hanya bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana membuat mereka mau tinggal lebih lama di Pacitan. Jangan sampai datang, berwisata sebentar, kemudian pulang,” ujar Mamat.


    Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep “Sunset to Sunrise”.

    Wisatawan datang sore hari, menikmati matahari terbenam, menginap di Pacitan, kemudian pada pagi harinya melanjutkan perjalanan menggunakan The Tamperan Cruiser untuk menyaksikan matahari terbit dari tengah laut.

    “Konsepnya sederhana. Datang sore, menikmati sunset, menginap, kemudian pagi naik kapal untuk melihat sunrise. Dengan begitu ada pengalaman yang berbeda sekaligus membuat wisatawan punya alasan untuk tinggal lebih lama,” jelasnya.


    The Tamperan Cruiser memiliki kapasitas sekitar 20 penumpang. Untuk wisatawan umum, paket perjalanan dibanderol sekitar Rp150 ribu per orang, yang dilengkapi voucher makan dan penginapan.


    Sementara bagi wisatawan lokal, tersedia tarif sekitar Rp100 ribu per orang, dengan fasilitas voucher makan. Skema tersebut juga masih memungkinkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.


    Kehadiran kapal ini sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan paket wisata bahari Pacitan. Mulai menikmati sunset dan sunrise, menjelajahi teluk, fishing trip, hingga layanan private charter.


    Mamat menegaskan, kapal tersebut diharapkan tidak berdiri sendiri. Justru kekuatan utamanya berada pada ekosistem pariwisata yang mengikutinya.


    “Kalau wisatawan tinggal lebih lama, yang bergerak bukan hanya kapal. Hotel dan penginapan ikut mendapatkan manfaat, restoran dan kuliner bergerak, UMKM hidup, transportasi ikut bergerak, nelayan dan pemandu wisata juga mendapatkan peluang,” katanya.


    Karena itu, The Tamperan Cruiser membawa pesan “See Pacitan From The Sea”.

    Selama ini Pacitan lebih banyak dikenal melalui keindahan pantai, pegunungan, goa dan destinasi darat. Kini perspektif tersebut ingin diperluas dengan menghadirkan pengalaman menikmati Pacitan dari laut.


    20 Agustus 2026 menjadi titik awal perjalanan tersebut.

    First Touch of The Sea bukan sekadar peluncuran sebuah kapal, tetapi menjadi penanda dimulainya sebuah gagasan untuk memperkuat wisata bahari Pacitan.


    Pemkab Pacitan Berikan Dukungan

    Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Pacitan. Dalam momentum first touch of the sea, Pemkab Pacitan hadir melalui Prayitno, Staf Ahli Bidang Perekonomian, yang menyampaikan dukungan terhadap inovasi masyarakat dalam mengembangkan potensi daerah.


    Prayitno menilai, munculnya inovasi wisata seperti The Tamperan Cruiser merupakan sesuatu yang positif karena Pacitan memiliki potensi bahari yang sangat besar.


    Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan destinasi. Diperlukan kreativitas untuk menciptakan pengalaman baru sehingga wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk datang dan tinggal di Pacitan.


    “Pemerintah daerah tentu mengapresiasi capaian ini. Apa yang dilakukan masyarakat dan pelaku usaha seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkenalkan Pacitan,” ujar Prayitno.


    Ia menegaskan dukungan pemerintah daerah diarahkan agar potensi Pacitan dapat diperkenalkan secara lebih luas, bukan hanya dari sisi destinasi wisata, tetapi juga kuliner, hotel, penginapan, ekonomi kreatif hingga produk UMKM.


    “Harapannya wisatawan yang datang ke Pacitan tidak hanya mengetahui tempat wisatanya, tetapi juga menikmati kulinernya, menginap di sini, menggunakan jasa masyarakat lokal dan kemudian membawa pengalaman itu kepada orang lain,” lanjutnya.


    Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat menjadi kunci agar geliat pariwisata memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.


    The Tamperan Cruiser pun diharapkan menjadi salah satu pemantik.

    Sebab, ketika sebuah kapal wisata mampu membawa wisatawan menikmati laut Pacitan, sesungguhnya yang sedang dibawa bukan hanya penumpang.

    Ada nama Pacitan yang ikut berlayar.

    Ada kuliner lokal yang ikut dipromosikan.

    Ada penginapan yang ikut terisi.

    Ada UMKM yang ikut tumbuh.

    Dan ada harapan agar wisatawan tidak lagi sekadar datang dan pulang, tetapi datang, tinggal, menikmati, lalu kembali.


    Dari sebuah workshop di desa, karya anak-anak Pacitan kini mulai menyentuh laut.

    SUNSET TO SUNRISE.

    SEE PACITAN FROM THE SEA.

    The Tamperan Cruiser.

    Sebuah karya yang dibangun di Pacitan, oleh anak-anak Pacitan, untuk membawa cerita Pacitan semakin jauh.


    Dan menjadi bagian dari upaya menguatkan Pacitan sebagai “70 Mile Sea Paradise.” (Red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini