-->
  • Jelajahi

    Copyright © Timesnews.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    ESI Pacitan: Pendidikan Harus Berinovasi, Bukan Salahkan Game Online

    timesnews.id
    Selasa, 02 Juni 2026, Juni 02, 2026 WIB Last Updated 2026-06-02T23:15:21Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Foto AI siswa-siswi dalam pembelajaran 

    TIMES NEWS PACITAN – Rendahnya tingkat literasi dan numerasi siswa belakangan kembali memunculkan perdebatan mengenai pengaruh game online terhadap dunia pendidikan. Namun, Humas E-Sport Indonesia (ESI) Kabupaten Pacitan, (Ans), menilai bahwa menyalahkan game online sebagai penyebab utama menurunnya kualitas pendidikan merupakan pandangan yang kurang tepat.


    Menurutnya perkembangan teknologi digital saat ini tidak bisa dihindari. Karena itu, dunia pendidikan perlu melakukan transformasi agar mampu mengikuti pola belajar generasi yang tumbuh di era teknologi dan internet.


    "Game online sering dijadikan kambing hitam ketika terjadi penurunan minat belajar atau rendahnya literasi siswa. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks. Teknologi berkembang sangat cepat, sehingga pendidikan juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut," ujarnya.


    Ans menjelaskan bahwa tidak semua orang dapat menjadi pemain game yang baik. Banyak permainan kompetitif yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis, strategi, kerja sama tim, komunikasi, hingga pengambilan keputusan dalam waktu singkat.


    "Orang sering menganggap bermain game hanya sekadar hiburan. Padahal dalam dunia E-sport, pemain dituntut memiliki kemampuan analisis, memahami strategi, membaca situasi, mengatur sumber daya, bahkan membangun kerja sama tim yang solid. Semua itu membutuhkan kecerdasan dan proses belajar," jelasnya.


    Ia mencontohkan, dalam berbagai kompetisi e-sport, para pemain harus mempelajari mekanisme permainan, menyusun taktik, menghitung risiko, hingga mengevaluasi kesalahan setelah pertandingan berakhir. Menurutnya, kemampuan tersebut memiliki kesamaan dengan proses pembelajaran yang selama ini diajarkan di sekolah.


    Karena itu, Ans mendorong adanya terobosan dan inovasi dalam dunia pendidikan dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran. Metode belajar konvensional yang hanya berfokus pada hafalan dinilai perlu dipadukan dengan pendekatan yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa.


    "Kalau siswa bisa berjam-jam fokus mempelajari strategi dalam game, berarti sebenarnya mereka memiliki kemampuan belajar yang baik. Tantangannya adalah bagaimana materi pelajaran dikemas lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakter generasi digital saat ini," katanya.


    Menurutnya, konsep gamifikasi atau pembelajaran berbasis tantangan dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan minat belajar siswa. Dengan sistem level, penghargaan pencapaian, simulasi digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), proses belajar dapat menjadi lebih menyenangkan sekaligus efektif.


    Ans menegaskan bahwa teknologi bukan ancaman bagi pendidikan. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

    "Jangan fokus mencari siapa yang salah. Yang lebih penting adalah bagaimana pendidikan mampu bertransformasi. Dunia sudah berubah, teknologi sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Sekolah harus hadir dengan inovasi yang relevan agar siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dan menguasainya," pungkasnya.


    Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi digital, berbagai kalangan berharap dunia pendidikan Indonesia mampu melakukan penyesuaian sehingga literasi, numerasi, dan keterampilan abad ke-21 dapat berkembang seiring kemajuan zaman, tanpa harus menjadikan game online sebagai pihak yang selalu disalahkan.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +